Gustave Flaubert: Nyonya Bovary
Kami mulai menghafalkan pelajaran. Ia mendengarkan dengan saksama, khidmat seperti mendengarkan khotbah. Menyilangkan kaki ia tak berani, bersandar pada siku juga tidak. Ketika lonceng berbunyi pada pukul dua, guru sampai harus menyuruhnya berdiri dalam barisan bersama kami.
Kami punya kebiasaan membanting topi pet ke lantai supaya tangan bebas saat masuk kelas. Begitu menginjak ambang pintu, topi pet harus dilempar ke bawah bangku sampai menabrak dinding dan mengepulkan banyak debu. Begitulah caranya.
Barangkali karena ia tidak melihat ulah kami atau mungkin karena tidak berani ikut-ikutan, maka ketika selesai berdoa, topi pet anak baru itu masih ada di pangkuannya. Topi pet adalah sejenis topi yang bentuknya tidak keruan. Agak mirip dengan topi dari kulit beruang, topi barisan kuda bertombak zaman Napoléon III, topi bundar, topi dari kulit berang-berang atau kopiah dari kain. Pokoknya sebuah
barang yang mendatangkan rasa malu. Dan bentuknya yang jelek serta kebisuannya seakan menceritakan isi hatinya seperti wajah seorang dungu. Topi pet itu berbentuk bulat telur dengan rangka bagian bawah terdiri dari tiga uliran yang melilit. Lalu, berselang-seling ada hiasan dari beledu dan kulit kelinci yang dipisahkan garis-garis merah. Bentuknya mirip kantong dengan ujung bersegi banyak dan berlapis karton, dengan sulaman pita yang rumit. Kuncirnya berbentuk salib yang dibuat dari benang emas, digantungkan pada benang panjang yang terlalu halus. Topi pet itu baru. Kancingnya masih mengkilat.
“Berdiri!” kata guru. Ia berdiri. Topi petnya terjatuh. Kelas tertawa.
Ia membungkuk memungut topi pet. Teman di sampingnya menyenggol topi pet itu dengan siku hingga jatuh lagi. Sekali lagi dipungutnya. “Letakkan dulu topi pet itu,” kata guru yang jenaka. Tawa murid-murid meledak sampai-sampai anak baru itu kebingungan, tidak tahu apakah topi itu sebaiknya dipegang, dijatuhkan ke lantai, atau ditaruh di atas kepalanya. Ia duduk kembali dan menaruh topinya di atas pangkuan.
“Berdirilah,” kata guru lagi, “dan katakan siapa namamu.” Anak baru itu menggumam, mengucapkan sebuah nama yang tak kedengaran.
“Ulangi!”
Terdengar gumam kata seperti tadi, disambut sorak-sorai seluruh kelas.
Kurang
keras!” teriak guru. “Kurang keras!”
Anak baru itu menguatkan hatinya. Ia nekat membuka mulutnya lebar-lebar, dan menyebutkan namanya sekuat tenaga seperti hendak memanggil orang: Syarbovari.
Kegaduhan meledak, membumbung tinggi, diselingi teriakan suara keras (anak-anak menjerit, memekik, mengentak-entakkan kaki, mengulang-ulangi: Syarbovari! Syarbovari!). Lalu keriuhan perlahan mereda, meski kadang tiba-tiba mulai lagi di salah satu deretan bangku karena ada yang
terkikik-kikik, seperti petasan yang belum benar-benar habis.
Halaman: iv + 96